MY IKLAN

SELAMAT DATANG DI DUNIA INSPIRASI YANG PENUH RASA

JIKA HALAMAN INI MERUPAKAN SEBUAH PINTU, DARI MANA SAJA BOLEH MASUK DEMI MEMBANGUN SILATURRAHMI FIKRI, JIKA JENDELA HALAMAN INI BAGAI DANAU SIAPA SAJA BOLEH MANDI DAN BERENANG BAHKAN JIKA HAUS BOLEH MINUM JIKA BISA MENJADI SEBUAH HIKMAH, KARENA HALAMAN INI DI PELIHARA DEMI SEBUAH RUMAH SENI SASTRA YANG INGIN JADI RUMAH PENGETAHUAN. SEMOGA YANG MAMPIR SELALU MENDAPAT KEINDAHAN




Minggu, 02 Agustus 2020

Pernah
Bayanganmu hadir di jiwaku 
melibihi apa yang bisa ku lihat dengan indraku
Khayalan indah bersamamu 
melebih rasa lezat yang ku kenal dengan lidahku
Demikianlah kisahmu
Yang pernah menjadi lumut hijau di dinding jiwaku
Lalu tak mengenal kemarau disepanjang hayatku
Menjadi kisah abadi
Hadirmu tak ubahnya bidadari yang pernah terdampar dibumi 
menjadi kisah abadi tiada terganti
Sekalipun tak pernah tercatat sebagai kekasih yang suci

Sabtu, 02 Mei 2020

DI SIMPANG JALAN

mentari setinggi ilalang
mengiringi langkahku
tapaki risau keirikil tajam di jalanan
akulah yang bernyanyi bersama pengamin
bersama pengemis yang bersuara tak jelas
menadahkan tangan hampa mengharap iba
itukah yang kau namakan pemberdayaan...???

sementara bocah bocah kehilangan arena bermain
di tengah ladang ladang menjadi perkotaan
jalan panjang beraspal licin
semakin hari mengasingkan si miskin
untuk mengerti tentang indahnya bumi pertiwi
lantaran kejamnya fiodalisme industri


DIMANAKAH JALAN MENUJU HATIMU

indraku mengenal aura cantikmu
dibalik kelopak jilbab mawar wajahmu
tersungging cahaya berseri
terselib merona di bibirmu
ingin sekali lagi aku merayumu
mambawa lari cinta yang kandas di masa lalu


JEMBATAN KATA MEMBINKAI SAHABAT LINTAS NEGARA

Tanpa rupa
tanpa suara
engkau menjelma sebagai saudara
Kalimat kata dan bahasa
mengajak kita bercakap indah
Tak perduli jarak kita terpisah benua dan samudra

KEINDAHAN NISBI


dalam musim
mungkin kemarau
dalam ombak mungkin badai
ditengah samudra mungkin gelombang
pasang surut itu adalah hukum lautan
disini...
ada legenda pejuang dibalik kematian
berani mati melawan takdir kehidupan
dibalik cinta bicara hadirkan bayang keindahan
surga diatas alam mungkin hanya impian
mengapa engkau lahir cantik ditengah pertaruhan
tak sadarkah usiamu takkan sanggup melawan kincir zaman
akan terbekam dalam gubuk kematian
percuma...
diantara cacat mata terpesona
engkau memilih kenikmatan dibalik lampu temaram
kesempurnaanmu hancur diantara nominal

Rabu, 01 April 2020

KETIKA BAHASA HANYA SEBUAH PENGHANTAR KONDUKTOR

untuk para pembaca bacalah
mengapa mereka menjadi tak berdaya
untuk para pemikir pikirkanlah
mengapa mereka cenderung serakah
apa memang sejarah kita tak cukup usia 
ataukah memang sudah tak bisa belajar bijaksana
yang berpengetahuan membodohi yang awam
yang berpengetahuan hanya pintar cari uang

CORONA COVID-19


Corona
Dari manakah engkau datang ke bumi
Hingga mampu melahirkan kecemasan,
ketakutan seluruh penduduk alam semesta
Seakan lebih menakutkan dari hari kiamat
yang pasti kelak akan tiba
Seakan lebih menakutkan dari kematian
yang akan dialami setiap makhluk Tuhan diatas alam
Corona
Makhluk apakah yang sebenarnya?
Tak menjelma iblis, jin, setan dan raksasa dari alam berbeda
Namun mampu melumpuhkan dunia
Berjuta negeri menyatakan diri menutup kotanya
menjadi setengah mati dari seluruh aktifitas sehari- hari
Monorehkan sejarah Rumah Tuhan (Bitullah) konon dilarang dikunjungi
Ibarat musibah banjir yang pernah menenggelamkannya
Corona
Atas nama murka Tuhankah CORONA menjelma kealam dunia?
Atau mungkin adzab Tuhan sebagai peringatan zaman
Tak kasat mata namun mampu melahirkan ketakutan dan kepanikan penduduk seluruh bumi 


Rabu, 12 Februari 2020

SURAT YANG TAK SAMPAI PADA TUAN AKU KIRIMKAN PADA TUHAN

Mungkin tak seberat jenggot yang menggantung di bawah dagu
Tak semahal gantungan kunci yang terbeli dari kenangan yang mati
Mungkin saja dompet malaikat itu tak muat untuk terselip kartu namaku
Maafkan aku, kalimatku tak bisa diam seperti mulut yang bisu
Menyaksikan api membakar kertas sketsa wajah yang cemas, aku merasa sedih dan letih
Ada kekejaman yang tak adil dalam kelas kekerabatan dan kesempatan
Tuhan...mengapa kami harus menjadi saksi atas warisan yang seperti ini?
Tuhan...semoga Engkau selalu menggenggam nadi-nadi kami
Yang bergemuruh di antara detak jantung melintasi hitam pekat di lorong segumpal hati
Tuhan...jika ini takdir kami, maka hanya doa yang bisa kami persembahkan di atas sejadah suci
Di balik kami yang hanya bisa menyaksikan dan merasakan asa yang berubah ujud jadi air mata
Lantas janin-janin yang menggumpal jadi bayi di antara gizi yang matang di atas tungku api
Harus lahir menjadi anak tiri oleh kekuasaan tuan-tuan yang konon demi kebijakan


 


KISAH TANGGA SERIBU UIN MALANG

masih ingatkah dirimu
di saat malam itu kau berjalan denganku
sesekali kamu bilang jalannya pelan-pelan saja
langkah demi langkah yang tak terhitung
laksana mengantarkan kita ke tempat tanpa ruangan
Tangga seribu tempat kita bisa menikmati duduk berdua
disanalah kita saling menumpahkan cerita
dalam percakapan luka yang indah
kau sampaikan berita duka lara hidupmu untukku
tanpa aku bisa senyum menanggapi semua realita perjalananmu
dari mulutku keluar bahasa risau dan gelisah sesekali merasa tak rela
inginku bertanya kenapa engkau memilih cinta yang penuh suratan duka dan derita
tapi aku terasa tak tega melihat air matamu tumpah
terpaksa aku diam saja demi dirimu yang pernah bilang bahwa cinta itu milik kita
pada akhirnya Tuhan pilihkan kau jadi ibu dari putriku tercinta saat ini
begitulah history masa lalu
menuai luka dan derita yang tak selamanya pedih menjadi luka
sekalipun hari ini kita belum tertuai dalam bahagia



WASIAT DARI TANAH MADU DAN DARA


jangan tanya lagi kenapa...
warga kami merantau ke seluruh nusantara
konon...
geografis tanah Madura panas dan gersang
demikian menempa watak kami riang dan usang

jangan tanya lagi kenapa...
di tanah Madura darah tertumpah
apabila istri, agama dan harga diri
terusik untuk diracuni
itulah bukti warga kami yang berbudaya
itulah bukti warga kami yang ber-etika
sebagai bukti nilai peradaban tidaklah maya

Maduraku tercinta
akan aku genggam erat
semboyan filosofismu di dada
sebagai tanda
aku dibesarkan potensi Madu dan Darah
ini semangat
warisan dari tanah ibu di pulau sana
sehingga kami hadir di halaman ini
bukan untuk siapa siapa
bukan pula demi semata tanah Madura

selangkah dari tanah ibu
kami bawa rasa madu
sekalimat dari semboyan Madura
kami ingin jadikan budaya indah

jangan pernah bilang...
warga kami pencetus kekerasan budaya
warga kami pemberontak nilai etika
warga kami zionis bangsa bangsa
sebab bangsa kami bukan penjajah

maafkan warga Madura
jika terpaksa kasar laksana singa
itulah watak warga kami yang nyata
tak suka memendam perasaan malu dan rasa terhina
kala ditindas dan disakiti

biarlah kami persaksikan
sebagai manusia hitam putih
yang berlabel putih tulang dari pada putih mata
dan lebih baik berdarah
dari pada tak pernah dihargai sebagai manusia

Malang, 20-06-2007



Kamis, 06 September 2018

MENGADU NASIB PADA ALAM

Mungkin musim ini tak akan ada bunga mekar
Dedaunan yang melambai-lambai di tepian jalan
Telah gugur bersama ranting yang kering
Jalan seluas telapak kaki makin tampak membelenggu ilusi
Namun semoga tak ada yang bertanya lagi
Tentang apa saja yang bisa di gadaikan setelah ini
Mimpi ataukah memory yang mahal 
dari nominal harga mati
Disini bagai diatas tungku bara panas batu,
Kaupun akan tahu keras batupun bisa menjadi debu
Lumpur yang terseret arus tanpa tuan
Takkan mengadu terdampar di punggung bebatuan









Rabu, 06 Juni 2018

SENDIRIAN DI JALAN MENUJU TUHAN

bagi mereka kesalahan tak apalah pahit wajib ditelan
bagi mereka kebencian biarlah sejarah mengabadikan kenangan
jatuh tumbang bukan pilihan
remuk runtuh melewati getirnya kehidupan,
hanya takdir Tuhan sebagai jawaban
jiwa ini bukanlah gembala yang pantas diangun kemauan oleh keinginan
kecuali lantaran iktikad keimanan yang tunduk tanpa logikan tanpa alasan

Senin, 04 September 2017

Iktikad Menjaji Teroris Mental

pengorbanan yang telah aku namai kesabaran
seringkali menyisakan luka kehidupan
yang tanpa kasihan,
hingga selalu mengisyaratkan pilihan
sekalipun itu berwujud kehancuran,
namun hanya itu yang bisa memberitakan
baiknya bangkit dari keterburukan
dibalik kesengsaraan membingkai kejujuran
yang seringkali kehilangan Tuhan dalam kehidupan

DUNIA BERTANYA PENDIDIKAN MENJAWAB

Dekorasi Kehidupan

Saat tak kau takuti keriput kulitmu datang
Malaikat seakan tersenyum
Menyaksikan manusia yang ingin menggenggam bumi
Untuk pergi ke alam tak bertepi
Dunia bagai tak ada kenyataan tanpa kesenangan
Entah kemanakah suatu zaman akan lari

Mungkin suatu saat nanti...

Ada yang pergi ke Tuhan seakan meninggalkan kewajiban
Ada yang ingin masuk dunia khayalan seakan meninggalkan alam
Ada yang ingin naik jabatan seakan menjadi pahlawan

Kegilaan itu telah bersahabat dengan kepalsuan
Sebab hari ini tak ada kemenangan jika tak curang
Tak ada kesejahteraan tanpa persekongkolan
Wajah-wajah berseri tak lebih dari sekedar dekorasi




ERA TEKNOLOGI NON REBOISASI

Teknologi datang
Sebagian kalangan tersenyum
Diantara yang kebingungan
Seakan telah datang dunia baru peradaban
Namun manusia tetap sebagai manusia
Semakin langka menggunakan logika
Bahkan bahasa menjadi senjata buta
Melintasi planet tanpa norma dan etika
Mencaci sesama seakan biasa
Menghancurkan reputasi seakan lumrah
Keberanian tak ada ubahnya keberingasan
Dijadikan jalan alternatif untuk saling menikam
Berdalih ideologi seakan didunia mewakili tuhan



Sisi Lain Pembodohan

Andaikata cendekiawan ilmuwan
Mugkin bangsa ini telah merdeka
Dari kejamnya pembodohan
Tapi lantaran pengetahuan hanya label murahan
Menjadi tak ada persoalan
Jika wakil rakyat komersil jabatan
Demikian dongeng dari situasi perkantoran
Kepentingan bisa diatur 
Sesuai tensi kekuasaan
Korupsi bisa direncanakan
Berdalih berkembangnya masa depan
Entahlah masa depan siapa


Rabu, 18 Maret 2015

GILA KAU JADI EKTASE RINDUKU TUMBUH

Kau...
Pernah membawaku berkhayal kealam yang bisu
Memaksaku melamun tenggelam dalam rasa rindu
Seakan rasa gila setiap waktu merayu dan mencumbuiku
Saraf-saraf lusuh hanyut dalam arus aliran cintamu
Kau...
Bayang bayang terindah yang pernah berlumut hijau dijiwaku
Menyejukkkan ektase yang terus tumbuh menjadi rindu setiap waktu




BAGAIMANAKAH UNTUK MENILAI DAN MENGHARGAINYA

setiap kali mencoba pikirkan kaum perempuan
bagai tak ada yang bisa untuk dilukiskan 
apakah sebenarnya hidup ini
memang tak berdaya
memaknai kaum perempuan
yang menyimpan berjuta misteri yang maya
ataukah memang kodratnya dizaman ini
kaum perempuan mengobral kehinaannya
hingga yang mewakili popularitas
bukan nilai Muslimahnya tetapi memarnya
diujung birahi
perempuan adalah surga dunia
perhiasan tanpa hina
dalam pentas nurani
perempuan adalah anugrah Ilahi
yang tiada duanya
bagaimanakah hendaknya
dan sewajarnya memposisikannya
demi menyaksikan kembali
kaum Hawa yang terangkat derajatnya
disaat tak satupun utusan Tuhan dan Kenabian turun dari langit
namun tercipta dalam peroses kelahiran
yang konon setiap seorang ibu
adalah madrasah kehidupan
cantik, indah dan lembut
itukah hakikat perempuan yang sesungguhnya...?
putri kerajaankah, putri ulama'kah
dan ataukah yang berlabel jilbab itukah
sebagai Muslimah tiang jendela bangsa
susah rasanya bercampur sedih menyaksikannya
seakan tak tersisa sejarah Maryam
di ujung zaman yang semakin fana









INGIN KUSEMBUNYIKAN SEGALA RASA

badai itu tetap manamparku
meskipun jiwa ini
selalu aku sembunyikan pada takdir ilahi
perih ini tetap memaksaku mengeluh
meskipun puing-puing kehancuran
telah aku sandarkan pada hukum alam
masih berapa banyak kekecewaan Tuhan
harus mengendap dalam sedihnya kehidupan
menguji segala kesabaran berbuah kebahagiaan
sekalipun segala cobaan seakan tanpa sandaran
menyisakan segala catatan dalam kesidihan
tentang masa lampau yang seakan tampa tawaran
dari hargadiri yang murah diasingkan rupiah