MY IKLAN

SELAMAT DATANG DI DUNIA INSPIRASI YANG PENUH RASA

JIKA HALAMAN INI MERUPAKAN SEBUAH PINTU, DARI MANA SAJA BOLEH MASUK DEMI MEMBANGUN SILATURRAHMI FIKRI, JIKA JENDELA HALAMAN INI BAGAI DANAU SIAPA SAJA BOLEH MANDI DAN BERENANG BAHKAN JIKA HAUS BOLEH MINUM JIKA BISA MENJADI SEBUAH HIKMAH, KARENA HALAMAN INI DI PELIHARA DEMI SEBUAH RUMAH SENI SASTRA YANG INGIN JADI RUMAH PENGETAHUAN. SEMOGA YANG MAMPIR SELALU MENDAPAT KEINDAHAN




Minggu, 11 Juli 2010

DOA DALAM KETABAHAN


hanya kepada Engkau Tuhan
kami haturkan segala ketakberdayaan
dalam lemah kami mengemis jawaban tanya dalam doa
dalam hina kami haturkan sujud
memohon petunjuk perlindungan dari segala kenistaan
agar mampu menempuh jalan kemulyaan dalam penghambaan
karena tiada kelas dalam tingkatan kemanusiaan
tiada derajat karena pangkat dan jabatan
hanya ketakwaan yang membedakan manusia dengan hewan
lemahnya seorang manusia tanpa senjata
akan merasa damai tanpa berbuat kemaksiatan dan dosa
itu nyata jaminan yang Maha Kuasa kepada para hamba-Nya

Jumat, 02 Juli 2010

NAFAS CINTA DALAM LINGKAR CINCIN PETUNANGAN


(kisah ini di angkat dari realita gadis yang tersangkar pertunangan diantara pengkhianatan dan kenyataan)
seandainya ada yang tersikut dengan isi catatan ini penulis minta maaf atas lancangnya mengabadikan kisah diantara kalian
-------------------------------------------------------------------------

sebuah perjalanan cinta yang kau kehendaki dulu
hari-hari ini seakan tak ada lagi keindahan itu
seakan engkau paksakan untuk menghilang dari sisiku
bahkan terlepas dari lingkaran cincin perjanjian itu
yang telah sembilan tahun melingkar di antara jarimu dan jariku
aku tak tahu tentang semua itu
jauhmu dari sisiku seakan telah merubah semua cerita waktu
mungkin saja karena engkau menemukan gadis penggantiku
sehingga engkau terus ingin berpaling dari realita hidupku
yang hanya kuasa menunggu kepastianmu sepanjang waktu
disini aku masih teringat...,
ketika orang tuaku tak sudi menerimamu
tahukah engkau...?
akulah yang berkorban demi dirimu
sampai mereka semua mau menerima kita bersatu
dalam catatan doa restu
tapi entahlah apa yang terjadi pada dirimu
sehingga hari ini engkau seakan tak punya hati
yang telah tega menghianatiku
andai mereka tahu
hari ini kita telah seperti ini tak menentu
masih adakah setiamu
seperti yang engkau paksakan dahulu untukku
masih ingatkah engkau
bahwa dirimu merebutku
dari pertunangan yang dipilihkan orangtuaku
dalam jalan hidupku
sebelum engkau hadir disisiku
dan kemudian menggambil seluruh isi hatiku
andai memang sifatmu seperti itu
kau takkan pernah merasa
apa yang menyiksa di sepanjang hari-hariku
andai saja kehilanganmu adalah suratan bagiku
tak apalah mungkin semua itu
memang realita takdirku
hanya saja yang mungkin membuat aku
akan menjadi tak mampu
bila nantinya orang tuaku bertanya
tentang dirimu dan keadanmu dalam hidupku
apa yang dapat aku jelaskan
tentang dirimu yang telah menghianatiku
semoga saja kamu gak lupa
tentang semua kenangan indah bersamaku


Malang , 11 Januari 2010

Selasa, 22 Juni 2010

PENYAKIT ZAMAN MODERN



di era yang serba kolaborasi
nafas zamanpun penuh energi kolori besi
tak heran banyak remaja tak berbudi
bahkan santri tak berbakti
konon ini sudah waktunya peradaban teknologi
yang melahirkan sulitnya menerka perbedaan
di antara hakikat nurani dan kepentingan birahi

telah tampak warna-warni dalam tafsir logika fikri
di saat figurisasi bagai pajangan mati tanpa arti
entah kenapa popularitas dalam seni dan profesi
harus dihancurkan karena kebodohan dan ketololan diri
mungkinkah ini penyakit baru di atas dada bumi
ketika banyak kyai doyan cantiknya santri
ketika banyak para guru tak hanya mengajar tapi mengincar
mungkin semua ini tak lazim dikatakan penjajahan
akan tetapi telah lebih kejam dari penindasan
mungkin inilah sebuah simbol pengetahuan yang tanpa diamalkan untuk dikembangkan
sehingga yang hadir bukan pembaharuan tapi hanya pembodohan

kepada siapa lagi dan kearah kiblat yang mana lagi keteladanan harus dicari
bila para ilmuwan telah ingkar pada kandungan isi kitab suci
dan yang lebih menghawatirkan lagi ketika para pejabat tak beriman pada hukum Ilahi
tak heran bila bumi berselimut darah
mungkin itulah tanda tanda lemahnya sakral etika dalam peradaban budaya

Kamis, 17 Juni 2010

PENTAS BAYANGAN

masih berapa lama lagi
kebodohan ini harus dialami
dan di rasakan disini
apakah masih sejauh daya kodrat mata
yang memandang langit bagai tanpa jendela
masihkah sejauh hamparan bumi
yang mesti takkan sanggup tuk arungi dengan langkah kaki
lalu apa pantas untuk di sesali
bila hanya demi mengeluh tak berarti
sedangkan kebijakan ilusi bersuara lirih
bahwa dalam setiap niat yang suci akan tertolong oleh kuasa Ilahi
sebenarnya kehendak siapa
bila dalam setiap jiwa bernasib tak sama
bagai kerikil diantara bebatuan
bagai sawah di antara gunung gunung dan pegunungan
bagai anak sungai di antara muara muara pantai lautan
sementara asaku tersapu dan hanyut ditengah badai dan gelombang
maka biarkanlah apa yang mesti terjadi, terjadilah
mungkin itulah sebuah pentas suratan
hingga tak lelah rasanya membuat catatan
meski mungkin hanya menjadi surat pendek pada zaman yang akan datang

Selasa, 08 Juni 2010

REFLEKSI DI TENGAH PERJALANAN RAMADHAN TIBA I

otak ini bukan magma yang bisa tumpahkan larva
tapi seringkali mendidih tanpa terpanggang api
hingga bukan tenagaku yang merintih lelah dan letih
bukan asa rasa yang harus menanggung jenuh diantara keadaan yang memaksa
hanya saja mungkin takkan rela bila harus mendengar suara jiwa tanpa muara
apalah arti kejujuran bila kandas tanpa kepercayaan dan keadilan
andai keyakinan rasa bisa mutlak terjadi dalam kenyataan
ingin rasanya nyawa bisa disumpahkan sebagai taruhan perjuangan
tapi terlalu ku mengerti hidup ini takkan suci dari kemunafikan diri
lantas tak terhindarkan tahawwur dalam kebingungan dan kebimbangan
hingga...
pada kiblat kiblat tak bersuara ku paksa hadapkan wajah suram tanpa cahaya
tapi entah mengapa aku bagai tak bisa bertuhan seperti mereka
lantas kau akan bilang apa?
bila ternyata kelahiranku sebab kehendak sang Maha Pencipta
yang juga butuh materi dan harta, lagian tak bisa ingkar ingin kaya hati dan rasa jiwa
rasa iri di setiap langkah bagai singa geram ingin menerkam mangsa
menjadikan keadaan seakan gila pada apa yang tak pernah diajarkan di bangku musholla
kata maksiat yang pernah guru ajarkan sebagai simbol label pendosa
telah lama tak terpikirkan bagai harta karun yang mengkarat di dasar jiwa
hingga lidah terasa tak fasih menghafal kalimat بسم الله di sepanjang hari melewati masa
kalimat kalimat doa bagai berguguran di balik kitab tua yang tak sempat terbaca

BERSAMBUNG

Selasa, 01 Juni 2010

DONGENG KEHIDUPAN

seperti bangunan yang pasti mengalami kehancuran
seperti jalan yang pasti mengalami kerusakan
yang bisa memotong langkah tujuan ditengah perjalanan
ku yakin gak mungkin mampu seperti gunung gunung
seperti pasang surut gelombang diantara beribu pantai
seperti luas langit terbentang dengan berjuta keindahan
gak mungkin bisa seperti kuil yang bisa kau datangi setiap waktu
gak mungkin seperti surau yang mampu memberi ketenangan
apalagi membuatmu tafakkur mengingat segala cipta
engkau nan aku hanya teranugrahi cinta sebagai kodrat fitrah
agar tak hampa menjadi khalifah dalam amanah menyayangi sesama
karena hidup ini tak lebih sebagai manusia saja dan mungkin makhluk pendosa
kala tak lembut seperti Jibril tak sesabar Ulul Azmi
kau pula takkan segigih Maryam untuk mengemban amanah
jadi tak perlu lagi mencari siapa yang salah tentang hakikat kita dialam dunia
petuah yang terindah adalah ketika bisa saling belajar bersama demi mencari hikmah
mencari keteladanan dan menjadi pewaris keteladanannya
demi membangun bekal hidup yang indah dalam keindahan yang nyata